0




Bagi anak laki-laki jaman dahulu, tidur di mushola seakan menjadi hal yang biasa. Ini dikarenakan kurangnya tempat tidur dirumah. Cobalahlah simak kejadian berikut ini.

Seperti biasa aku, Hary, Agus dan Enal selalu tidur mushola pada malam hari. Jarang sekali tidur dirumah. Letak mushola yang tidak jauh dari rumah menjadikan alasannya dan juga karena tidak adanya tempat tidur yang cukup dirumah kami. Setelah sholat Isya’ selesai, kami selalu berkumpul. Terkadang hanya 4 orang saja, kadang pula lebih dari 4 orang.

Di mushola tentunya juga tidak ada kasur ataupun tempat tidur. Hanya ada tikar dan itupun sudah sedikit usang. Senjata kami tentunya sarung yang kita bawa sendiri dari rumah. Tidak lagi ada kegiatan mengaji karena mengajikan telah dilakukan pada sore hari.
Sebelum tidur  kami mengobrol. Banyak masalah yang kami obrolkan. Saking asiknya mengobrol kadang-kadang kita tidak tahu bahwa malam telah larut. Pengingatnya yaitu jam yang ada di tembok mushola yang merupakan hasil sumbangan warga.

Malam itu sekitar pukul 22.00 WIB, kami berempat belum bisa tidur, tadi kami memang sempat minum kopi yang dibuatkan oleh istri dari pak kyai. Kamipun bersenda gurau di teras mushola. Dari gurauan tersebut kemudian Hary berbicara “ hey, ayo kita jalan-jalan saja ?”. “ jalan-jalan kemana ?” tanya agus sembari merapikan sarungnya lalu ditimpali kembali oleh Hary “ ya disekitar mushola ini saja biar kita tidak jenuh “. Terjadilah kesepakatan dan kemudian kami pun jala-jalan di sekitar mushola sambil bersenda gurau.

Sekitar berjarak 300 meter jauhnya kita berjalan. Mulailah muncul niat-niat yang tidak baik apalagi saat itu adalah saat musim buah. Sampailah kami pada pertigaan jalan yang disitu ada rumah besar dan memiliki beberapa macam tanaman buah-buahan.kami melihat adanya pohon rambutan yang berbuah lebat dan sudah berwarna merah. Air liur kami seakan berjoget di dalam tenggorokan ya seperti joget dangdut gitu. Muncullah niat dari Hary “ ayo kita ambil buah rambutan itu ? “. “ jangan nanti ketahuan bisa-bisa kena marah “ sahut Enal yang memang tergolong penakut. “ asal kita memanjatnya pelan-pelan aman kok “ Agus mencoba meyakinkan. “ ayo panjat saja “ jawabku karena aku sendiri juga sudah tidak tahan lagi karena pengen.

Hary dan Agus mulai memanjat sedangkan aku dan Enal berada dibawah pohon untuk mengawasi jika yang punya keluar rumah atau ada orang yang tahu. Beberapa saat berjalan aman. Hary dan agus mulai makan rambutan tersebut di atas pohon dan kami berdua dilempari dari atas yang kemudian kami makan ditempat. “ kumpulkan-kumpulkan kita makan nanti di musola “ terdengar suara dari atas pohon untuk mengumpulkan buah tersebut.

Kami mulai mengelurkan suara yang sedikit keras sehingga yang punya rumah mendengar. Terdengarlah jendela rumah dibuka dan kemudian “ siapa itu yang mengambil rambutanku “ teriakan yang punya rumah memecah hening malam. Hary dan Agus turun dari pohon tanpa memikirkan lagi resiko yang ada. Secepat mobil balap mereka turun lalu kami berempat lari bersama menuju mushola dengan membawa sedikit buah rambutan karena saking takutnya. Sesampainya di mushola nafas kami terengah-engah keringat membasahi baju kami. Kamipun segera cuci muka dan menyembunyikan rambutan tadi. Kami mencoba pura-pura tidur tetapi sambil berbisik-bisik. “ sarungku mana ?” tanya Hary kepada kami. “ waduh jangan-jangan ketinggalan “. Malam itu sungguh tidak bisa membuat tidur kami nyenyak. Kalau sampai sarung Hary ketinggalan saat mengambil, ingat ! mengambil loo bukan mencuri hehehe maka habislah kami.

Keesokan hari setelah subuh terjadikan sedikit keramain di lingkungan kami. Bapak yang punya rambutan tadi mengabarkan bahwa semalam ada orang yang mengambil rambutannya dan sarungnya tertinggal di atas pohon. Diambillah sarung tersebut lalu dicarilah siapa pemilik sarung. Celakanya ada yang hafal siapa pemilik sarung tersebut dan mereka memberitahukan bahwa yang memiliki sarung tersebut adalah Hary.

Kamipun dikumpulkan dan di introgasi layaknya pencuri yang ketangkap. Tak pelak orang tua kami marah dan juga ditambah marah dari orang-orang yang melihat saat itu. Kamipun oleh bapak kyai yang kami segani dan kami patuhi selanjutnya di hukum untuk membersihkan WC mushola. Bagaimana lagi ya hukuman tersebut harus kami terima. Mulai saat itu kami bersumpah jika akan mengambil rambutan maka kami tidak akan bawa sarung. Sarung membuat kami apes.

Dan tetaplah ingat mengambil tanpa ijin itu sama artinya dengan mencuri .

~Che, Cerpen anak mushola ~


Post a Comment

 
Top