0



Ku dorong motor tuaku karena ban belakangnya bocor. Maklum lah saja motor tua, sudah sepuluh tahun kupakai tanpa henti, dialah sahabat sejatiku mulai aku masih sekolah hingga kini sudah bisa kerja sendiri. Sejauh hampir 1 kilometer baru kudapati tempat tambal ban. Ku sapa sang pemilik tamban ban lalu kujelaskan bahwa ban belakangku bocor. Aku dipersilakan duduk untuk menunggu selesainya proses tamban ban. Hal yang paling kubenci adalah duduk menunggu tanpa secangkir kopi. Bisa dikatakan aku ini kopi lover alias pecinta kopi. Untung saja tidak jauh dari tempat tambal ban tersebut ada warung kopi sederhana.

Kulangkahkan kakiku menuju warung kopi itu. Aku masuk dan ternyata didalam sudah ada 2 orang bapak-bapak yang sedang menikmati kopi. Aku kemudian memesan 1 cangkir kopi hitam, kopi favoritku. Sebentar saja aku duduk muncullah keakraban dari 2 bapak-bapak yang lebih dulu menikmati kopi. Salah satunya tanya padaku ‘ dari mana mas’ ? akupun menjawabnya tadi dari rumah mau kerumah teman tetapi motorku bannya bocor pak. Bapak itu lalu manggut-manggut seakan mengerti. Bapak-bapak tersebut kemudian terdengar asik mengobrol. Hal yang iya obrolkan tentang adanya korupsi yang berjamaah.
“Korupsi kok jamaah’” ucap bapak yang memakai kaos hitam. Aku pun berfikir bagaimana bisa sebegitu banyaknya orang memiliki pemikiran yang sama untuk melakukan hal yang tidak baik. Apakah mereka satu sekolah atau mereka satu angkatan ? padahal orang tuanya berbeda, tempat lahirnya berbeda, kenapa memiliki pemikiran yang sama?. Aku tak bisa menerjemahkan pemikiranku sendiri. Aku hanya berfikir, jika orang-orang terpilih dan tentunya cerdas saja memiliki pemikiran yang sejalan untuk mendapatkan uang dengan cara tidak baik, lalu bagaimana dengan orang-orang sepertiku yang kurang punya kecerdasan dan juga kurang bekal agama. Bisa aku bayangkan sendiri jika suatu saat aku jadi seorang yang memiliki jabatan dan kekuasaan betapa rakusnya diriku. Betapa sombongnya aku dan betapa menipunya aku. Sungguh membuatku takut untuk menjadi seorang yang mengabdi untuk rakyat di negeri ini. Padahal aturan hukum jelas, secara agamapun jelas bahwa korupsi itu tidak diperbolehkan. Jika mereka orang-orang yang mengerti hukum saja melanggar aturan bagaimana denganku ? sebenarnya bagiku ini juga lucu. Lawong di KTP nya saja tertulis agamanya tetapi masih saja korupsi.

Benar apa yang dikatakan bapak Menteri waktu itu. Agama di KTP lebih baik dihapus saja. Untuk apa punya agama jika tidak percaya dengan larangan dan perintah agama. Tidak percaya lagi adanya Tuhan Yang Maha Esa. Bagi mereka agama di KTP hanyalah tulisan anak SD tanpa makna. Mereka lebih memilih takut kepada manusia sehingga dengan berbagai upaya mereka sembunyi-sembunyi untuk korupsi agar tidak diketahui manusaia lain, bukan takut pada Tuhan. Ah sudahlah untuk apa aku memikirkannya mending kunikmati kopi pesananku tadi.

Tak terasa 20 menit aku diwarung kopi. Sampai-sampai tukang tambal ban tadi menemuiku dan mengatakan bahwa bannya telah selesai. Lalu bergegaslah aku menuju motorku. Kukasihkan uang lima ribu sebagai bentuk pembayaran lalu ku nyalakan motorku dan kulanjutkan perjalananku yang sempat terhenti karena ban bocor.
~ Che, Cerpen ~

Post a Comment

 
Top