0



Mbah Cipto adalah seorang kakek berumur  enam puluh  tahun. Memiliki tiga orang anak, anak pertama perempuan telah menikah dan bertempat  tinggal di Surabaya. Anak kedua adalah laki-laki, sudah menikah dan betempat tinggal di desa lain namun masih dalam satu Kecamatan. Anak ketiga adalah laki-laki yang masih kuliah dan belum menikah. Mbah  Cipto memiliki empat orang cucu. 

Pada suatu siang mbah Cipto sedang menerima telephon dari anaknya yang pertama yang tinggal di Surabaya. Anaknya menanyakan kabar kesehatannya dan mbah cipto mengatakan bahwa kesehatannya baik-baik saja. Terdengarlah suara cucunya dalam telephon. Mbah Cipto teramat kangen karena lama tidak berjumpa dan menggendong cucunya. Setalah telephon berakhir mbah Cipto pun terlihat murung dan memiliki keinginan untuk pergi ke rumah anaknya yang ada di Surabaya.

Sebenarnya mbah Cipto belum pernah sendirian ke  Surabaya , namun karena rasa kangen yang teramat sangat mbah Cipto pun berniat akan ke Surabaya. Mbah Cipto meminta ijin kepada anak dan istrinya untuk pergi ke rumah anaknya yang ada di Surabaya. Anak dan istrinya sebenarnya tidak menginjinkan karena takut tersesat, tetapi karena mbah Cipto memaksa maka diberikanlah ijin.
Di hari Minggu pagi berangkatlah mbah Cipto ke Surabaya. Anak keduanya mengantarkan ke terminal bus dan mencarikan bus yang menuju  Surabaya. Mulai naiklah mbah Cipto di satu bus ekonomi. Bus itu bernamakan Bus TJIPTO. Bus ini merupakan salah satu Bus Antar Kota Dalam Propinsi. Berjalanlah bus tersebut dan sesekali berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Di setiap lampu merah bus tersebutpun berhenti untuk menaati aturan dan terkadang juga dibarengi dengan naiknya pedagang asongan, itu looo yang jualan makanan dalam bus. Terkadang pula naik juga pengamen jalanan untuk mencari rejeki di jalanan.

Mulailah pedagang asongan melakukan jurus-jurus dagangnya “ masih hangat, masih hangat “ pedagang Lumpia ini sedikit ceramah untuk menjual dagangannya yang berupa Lumpia kemudian menaruhkannya pada setiap penumpang bus. Maksud dari pedagang tadi adalah menunjukkan Lumpia dengan cara menaruhnya di samping penumpang untuk dibeli. Mbah  Cipto yang baru pertama kali naik bus merasa senang karena  mendapat makanan gratis “ asik di beri makanan gratis “ gumam mbah Cipto dalam hati. Maka di makanlah lumpia itu dan habis sudah. Pedagang asongan tadi kembali mengatakan “ masih hangat, masih hangat “ sambil mengambil lumpia di dekat penumpang yang tidak membelinya. Sampailah pada tempat duduk mbah Cipto dan pedagang menanyakan pada Mbah Cipto “ mana uangnya pak ?” kemudian di jawab oleh mbah Cipto “ uang apa ?  tadi kan dikasih gratis, kamu tidak ngomong untuk dibeli ”. Memang benar apa yang didebatkan mbah Cipto.  Terjadilah pertengkaran antara pedagang asongan dengan mbah Cipto. Dulunya mbah Cipto ini adalah preman kampung jadi berani melawan pedagang asongan. Tak berapa lama pedagang asongan keluar bus sambil berkata “ sing waras ngalah “, karena kecewa dagangannya dimakan tanpa dibeli.

Karena terkadang pemenang itu ditentukan oleh kuatnya argumentasi

~Che, Cerpen dalam bus ~

Post a Comment

 
Top