0

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya bahagia, hidup sukses dan mapan. Orang tua tidak pernah meminta apapun dari anaknya, namun kadang kala anaknya lupa diri ketika sudah menjadi sukses dan membiarkan orang tuanya yang sudah renta hidup tanpa kasih sayang anak-anaknya. Kisah yang aku tulis ini semoga memberi pelajaran pada diri kita khususnya kepada diriku secara pribadi. Bacalah sampai tuntas jangan ada yang tertinggal.

Orang tua mana yang tidak bahagia melihat anak-anak nya begitu sukses. Seperti yang dialami bapak Sabar ini. Ke empat anaknya telah memiliki kesuksesan di berbagi bidang, ada yang jadi pengusaha, dosen, dokter dan juga polisi. Bisa dikatakan semuanya tidak kekurangan ekonomi bahkan bisa dibilang cukup mapan untuk ukuran orang desa. Anak-anaknya tersebut tinggal di berbagai daerah yang sedikit jauh dari rumah orang tuanya. Sesekali mereka datang untuk menjenguk orang tuanya serta membawakan makanan dan barang-barang lain untuk orang tuanya.

Waktu terus berjalan, seperti siput yang sedang berjalan meski pelan namun hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Usia orang tuanya yang tinggal ayahnya saja karena ibu mereka telah lebih dulu meninggal pun bertambah. Kini ayah mereka telah mencapai usia tujuh puluh lima tahun, bisa jadi lebih sebab aku juga tidak melihat akte kelahirannya. Ayahnya tinggal sendiri dan berdekatan dengan rumah keponakannya yang biasa menengok serta menjaganya setiap hari. Dengan usia yang sudah tua menyakibatkan ayahnya sedikit lupa ingatan kita sering menyebutnya “ Pikun”

Karena faktor pikun tadi dan kurangnya pengawasan membuat si ayah ini jadi tidak terkontrol. Iya selalu saja keluar rumah bahkan pada suatu hari iya jauh meningalkan rumah dan dicari oleh keponakannya tadi. Untungnya hidup di desa karena orang desa masih memiliki tingkat kepedulian terhadap lingkungannya sehingga jika si bapak ini keluar rumah selalu saja ditolong orang untuk kembali kerumahnya.

Anak-anaknya yang sudah sukses tadi sebenarnya oleh warga telah dikasih tahu, namun karena alasan faktor pekerjaan yang tidak bisa mereka tinggalkan menjadikannya tidak sempat merawat orang tuanya. Maklum saja kini mereka telah menjadi orang hebat sehebat super hero di film-film bioskop. Hanya keponakannya tadi yang sangat perhatian terhadap si bapak ini. Semoga kebaikannya nanti dibalas surga.
Suatu ketika si bapak ini kembali keluar rumah dan karena faktor pikun tadi si bapak ini berbuat sesuka hati. Si bapak ini melempari pengendara motor yang lewat serta terkadang iya juga mengganggu para pengendara motor. Banyak anak-anak yang mengetahui tentang si bapak ini, namanya juga anak-anak seperti aku dulu, bukannya menolong malah mengejek si orang tua ini. Anak-anak ini mengejeknya dengan perkataan “ orang gila “. Kalimat itu terus anak-anak ucapkan mana kala bertemu dengan bapak ini. Terlihat di pinggir jalan seorang ibu penjual gorengan menangis dan aku mendekati ibu tersebut lalu aku tanya “ kenapa kau menangis bu?” lantas ibu itupun menjawab “  bagaimana aku nanti ketika anak-anak ku sukses lalu melupakanku ? “. Mendengar jawaban ibu itu, hatiku merasa sedih dan berfikir sama seperti ibu tadi dan tak terasa air mataku terasa menetes dipipi.

Lama waktu berjalan dan kejadian itu terus berulang. Sampai pada akhirnya si bapak ini mengalami sakit. Anak-anaknya yang sukses dikabari jika orang tuanya sakit. Merekapun pulang dan memberikan pengobatan kepada orang tuanya. Terjadi perselisihan dan saling menyalahkan antara anak yang satu dengan anak yang lainnya terkait kenapa sampai si bapak ini sakit.

Kemudian terdengarlah kabar bahwa si bapak ini meninggal dunia.  Anak-anaknya pun berkumpul di rumah duka dan menangis sejadi-jadinya. “ bapak, kenapa engkau meninggalkan kami “ terdengar kalimat terucap di sela-sela tangis dari salah satu anaknya. Anak-anaknya bergantian memeluk tubuh ayahnya yang telah terbungkus kain kafan. Tangis terus terjadi hingga membuat suasana pilu. Sampai dimakamkanpun tangis anak-anaknya masih terus terdengar.
Pada akhirnya sampai di hari ketujuh kematiannya. Seperti adat desa khususnya didaerah jawa jika telah sampai tujuh hari maka selalu dikirimi do’a. Ratusan undangan tersebar untuk ikut memberikan do’a.  Berbagai olahan makanan disajikan untuk menjamu undangan seakan anak-anaknya berlomba menunjukkan kemapuannya. 

Sebenarnya semua itu telah terlambat. Kenapa semasa hidupnya tidak dipedulikan ? apakah ini arti membalas orang tua ? Semoga saja aku bisa menghargai orang tuaku meski aku tidak sesukses mereka. Semoga aku jadi manusia yang masih manusiawi.

Karena kesuksesan bukanlah ukuran untuk menjadi hebat lalu lupa diri.

~Che, Cerpen Hidup ~


Post a Comment

 
Top