0



Banyak kejadian terjadi ketika Agresi Militer Belanda II saat itu. Orang-orang pada umumnya hanya tahu bahwa tentara gugur dalam perang itu karena terkena peluru ataupun granat. Kejadian yang tidak lazim kiranya sengaja tidak dipublikasikan ke media bahkan sengaja dihilangkan untuk menjaga wibawa tentara saat itu. Semakin sangar ceritanya maka akan semakin bertambah pula wibawa sebagai tentara. Itulah mengapa kita tahunya tentara gugur itu ya tertembak. Coba simaklah kejadian ini sampai tuntas, pasti kita akan tahu betapa perang itu sebenarnya juga ada kejadian yang tak pernah kita sadari. 

Kejadian ini bermula disatu kampung yaitu kampung merah. Selama kurang lebih satu minggu dikampung ini terjadi peperangan antara tentara Belanda dengan tentara Indonesia. Hampir disetiap sudut kampung berceceran darah hingga menyebabkan jalan-jalan menjadi merah, inilah mengapa kampung ini disebut kampung merah. Peperangan kedua kubu tentara tersebut memang sengaja terpusat disini karena kampung ini tergolong vital untuk dikuasai.

Di suatu siang kedua kubu tentara telah bersiap-siap perang. Segala keperluan perang mereka persiapkan mulai dari senjata, peluru, bahan makanan serta keperluan lain yang wajib dibawa mereka persiapkan. Di kubu Belanda dipimpin oleh Mayor Dekock dan di kubu Indonesia dipimpin oleh Mayor Tutukno. Semua persiapan telah rampung dan kedua kubu tersebut bergegas ke medan perang. “ wahai para tentara, hari ini kita akan ke medan laga untuk mempertahankan tanah air yang kita cintai ini “ Mayor Tutukno memberikan semangat kepada anak buahnya. “ Siaaaap “ sahut tentara.

Kubu Belanda tersisa 30 tentara, sedangkan kubu Indonesia tersisa 10 tentara saja. Terlihat tidak seimbang, namun demi mempetahankan setiap jengkal tanah air tidak ada alasan bagi tentara untuk takut perang apalagi takut mati. Jiwa dan semangat patriotik telah tertanam dalam diri setiap tentara. Kedua kubu itu pun menuju medan perang dan pastinya perangpun terjadi.

Suara tembakan mulai terdengar, dar, der, dor, deng. Loh kok deng ? iya sebab mengenai atap rumah warga yang terbuat dari seng sehingga menimbulkan suara deng. Peluru-peluru yang lewat seperti kilat dan saking banyaknya seakan seperti hujan meteor. Granat tangan juga terlontar hingga menyebabkan suasana menjadi seram bahkan lebih seram dari malam jum’at kliwon. Berjam-jam perang dari kedua kubu itu terjadi hingga amunisi yang meraka bawa menipis seperti tipisnya dompetku saat ini. K orban berjatuhan dikedua kubu, jeritan dari tentara yang terkena peluru serta menahan sakit yang luar biasa membuat siapa saja miris dan ingin menangis. Banyak yang gugur dari kedua kubu. Tergeletak ditanah dengan bersimbah darah, namun perang belum usai.

Hingga hari semakin petang masih terjadi baku tembak meski terdengar semakin jarang. “ Mundur, kita mundur hari sudah gelap “ teriakan Mayor Tutukno terdengar keras. Seluruh tentara di kubu Indonesia menuju camp persembunyian. Kemudian Mayor Tutukno menginformasikan kepada tim medis untuk bergegas menuju medan perang tadi dan menolong yang terluka serta membawa yang telah gugur. Dengan obat seadanya akhirnya yang luka diobati. Untuk mereka yang telah gugur dilakukanlah otopsi kecil guna mengetahui penyebab kematiannya.

Betapa kagetnya tim medis mengetahui bahwa salah satu tentara gugur bukan karena peluru. Tidak didapatinya peluru yang bersarang ditubuh tentara itu dan hanya ada lubang dikepala tentara itu yang ternyada ada batu kecil didalamnya. Ketua tim kemudian menyimpulkan bahwa tentara tersebut “ mati kerena batu “ ini didasari dari adanya batu dikepala tadi. 

Kemudian Mayor Tutukno dan tim medis menyimpulkan lagi kemungkinan-kemungkinan kenapa batu itu sampai dikepala. Hasil kesimpulannya adalah : ketika terjadi baku tembak tadi, ada peluru nyasar kemudian peluru tersebut mengenai batu dan batunya pecah menjadi pecahan kecil selanjutnya pecahan batu itu terlontar mengenai kepala tentara tadi. Banyak tentara yang tidak percaya bahkan aku sendiri juga tidak percaya, maka dari itu percaya saja ya agar tidak terjadi debat. Untuk menjaga ini semua Mayor Tutukno memerintahkan semua tentara untuk tidak bercerita tetapi mayor tentara lupa bahwa saya juga mendengarnya dan saya ini suka bercerita. Maaf Mayor saya khilaf ya.

Itulah kisah yang mungkin tidak kita sadari dalam perang dan jangan dikira tidak ada kelucuan dalam perang.

~ Che, Cerpen Perang ~

Post a Comment

 
Top