0

Cerita ini diambil dari kisah seorang sahabat :

Dia memiliki nama samaran Bijah, seorang pemuda desa yang usianya masih remaja. Memiliki perawakan sedikit atletis karena kerja dia berkaitan dengan penggunaan kerja otot. Kulit agak sawo matang dan memiliki rambut keriting. Tidak suka banyak bicara dan lebih memilih diam. Sering terkena masuk angin karena telat makan.

Bijah mencintai seorang perempuan cantik yang berada di Kecamatan berbeda. Dia mengenalnya melalui media sosial. Lama dia berkomunikasi melalui media sosial. Dari komunikasi yang intens tersebut timbullah sebuah rasa di hati yang ingin mengunjungi perempuan tersebut secara langsung.
Ditentukanlah waktu untuk mengunjungi perempuan itu dan telah disepakati sebelumnya. Dengan motor bebek yang sedikit usang, Bijah pun mempersiapkan diri untuk berkunjung. Pakai baju baru hasil pinjaman teman, farpum aroma segar yang masih tersisa dan rambutnya pun tak lupa memakai pomade. 

Berangkatlah Bijah menuju rumah si perempuan tersebut di waktu pagi hari.
Tanjakan, tikungan dan lubang jalan tidak dia hiraukan karena dia telah memiliki niat yang kuat. Sampai pada akhirnya diapun tiba dirumah perempuan itu. Rumahnya berada dipelosok desa yang berdekatan dengan perbukitan dan berhawa sejuk.
Perempuan tersebut menyambutnya ditemani orang tuanya, karena kebiasaan masyarakat desa akan selalu menyapa dengan ramah. Dipersilahkan masuk rumah dan mulai saat itu terjadilah komunikasi secara langsung. Nama perempuan tersebut adalah Iva entah siapa nama lengkapnya aku tidak tahu. Setelah ngobrol lama dan dari hasil bujuk rayu kemudian diajaklah si Iva ini untuk sekedar jalan-jalan. Cieeee berduaan ya ?

Menujulah Bijah dan Iva ke arah kota. mereka menuju salah satu tempat nongkrong yang lumayan terkenal di sudut kota.  Sembari menikmati pemandangan dan semilir angin, komunikasi diantara mereka makin hangat. Bijah menceritakan tentang dirinya dan segala tetek bengek kehidupannya dan si Iva pun juga begitu.  Ada rasa malu diantara mereka, itu hal biasa karena belum lama kenal. Meski sedikit canggung namun setelah beberapa menit ngobrol di tempat tongkrongan itu barulah keduanya sangat akrab.

Lama mereka berada disana dan haripun sudah sore, beranjaklah mereka pulang dengan motor Bijah yang lumayan usang. Lapar pun mulai menyerang perut si Bijah dan juga si Iva. Namanya juga perempuan, selapar apapun pasti  dia akan malu mengutarakan sebab belum lama kenal. Bertahanlah mereka dari rasa lapar yang menyerang sebab mereka harus melewati jalanan  yang  jauh dari warung.
Hingga terlihatlah satu Banner bertuliskan “ Bakso Mantap “ . Menujulah keduanya ke warung bakso tersebut. “ masih baksonya bu ? “ Bijah pun tak segan bertanya. “ waduh mas tinggal tersisa 3 buah bakso doang “ jawab ibu pemilik warung. Bijah pun memberitahukan kepada si Iva dan si Iva pun mau makan di warung tersebut meski hanya dengan 3 buah bakso, entah kerena takut, karena cinta atau karena lapar akupun juga tidak tahu hehehe. Sang pemilik warung pun bingung dan bertanya “ mas, ini gimana membaginya ? “. Si Bijah pun memberi solusi yang tepat , akurat dan hebat.

Dibagilah 3 buah bakso tersebut menjadi 2 porsi. Satu porsi berisi penuh kuah dengan 1 buah bakso dan porsi lannya juga penuh kuah dengan 2 buah bakso. Porsi yang berisi satu buah bakso diambil oleh Bijah sebagai bentuk jiwa lelakinya. Merekapun makan dengan segala bentuk rekayasa perutnya  agar terlihat kenyang dan begitulah karena cinta harus diperjuangkan. Bagiku sendiri aku tak habis pikir dengan si Bijah ini. Padahal Indonesia itu luas, kok tega-teganya mampir warung yang hanya tersisa 3 buah bakso ? ah entahnya mungkin Bijah punya pemikiran lain.

Karena hidup perlu rekayasa agar selalu terlihat bahagia

~ Che, Cerita perjalanan cinta ~

Post a Comment

 
Top