0



Hari sudah beranjak sore dan waktunya anak  laki – laki beranjak bermain bola di sebuah tanah lapang yang tidak seberapa lapang. Lima anak laki – laki tampak mulai berjalan dengan membawa bola plastik hasil dari mereka iuran. Canda gurau saat mereka berjalan terdengar asik dan seakan tidak tersirat rona kesusahan diantara mereka.

Sampailah mereka pada tanah lapang yang digunakan sebagai tempat bermain bola. Di sisi pinggir lapangan itu ditanami berbagai macam tanaman seperti kelapa, rambutan dan mangga. Berdiri tegak di pinggir lapangan agak menjorok ke lapangan sebuah tiang bendera yang terbuat dari besi dan terlihat jelas Sang Merah Putih melambai – lambai di angkasa.  Memberi aura semangat pada anak – anak yang bermain bola disitu setiap harinya.

Mulailah kelima anak itu bermain bola. Giring sana giring sini tapi bukan giring Nidji lo hehehe, mereka sangat asik bermain bola. “ goll “ teriakan itu silih berganti terdengar dan seakan menjadi tujuan mereka dalam bermain bola. Keringat membasai tubuh tidak  mereka rasakan  malah menjadikan bumbu permainan dalam keasikan di sore itu. Terkadang terlihat mereka berguling atau terjatuh ditanah saat memperebutkan bola. Ya itulah permainan sepak bola yang menurut para pakar merupakan permainan pemersatu. 

Haus mulai menerpa, merekapun bergegas meminta minum di salah satu rumah yang memang dekat dengan lapangan. Seakan sudah hafal sang pemilik rumahpun selalu menaruh wadah berisi air matang di luar rumah agar para anak – anak yang haus saat bermain bola mudah untuk mengambil air minum. Hauspun telah terobati dan kembalilah mereka ke lapangan untuk bermain bola. Tinggal empat yang bermain bola sedangkan satu anak yang bernama Imam tidak lagi ikut dalam permainan tersebut. Imam memilih mencari kesibukan sendiri. Dia berada di pinggir lapangan sambil memperhatikan satu persatu pohon – pohon yang ada di pinggir lapangan. Sesekali Imam memburu burung gereja yang sedang mencari makan di sela – sela rumput yang ada di pinggir lapangan namun tidak ada satupun yang berhasil dia tangkap. Diapun terus asik bermain sendiri sambil menyaksikan temannya bermain bola.

“ aduuuuuuh “ teriak Imam dari pinggir lapangan. Secara serempak keempat anak yang mendengar itu bergegas mencari sumber suara dan di dapatinya si Imam lagi terkapar, tersungkur, tergeletak dan ter lah pokoknya di pinggir lapangan. Dia memegangi kepalanya yang tampak benjol. “ Kenapa Kamu, mam ? “ tanya salah seorang kawannya. “ anu, anu tadi aku .... “ Imam masih sedikit pusing sehingga belum bisa menjelaskan kejadian yang dia alami.

Diberilah minum si Imam agar lekas pulih dan kemudian dia pun menjelaskan kronologi kejadiaannya “ Begini lo aku tadi kan bermain daun kelapa, terus daun kelapa itu saya buat ayunan seperti film tarzan “. “ Lalu kenapa tergeletak ? “ tanya temannya. Imam pun meneruskan ceritanya “ La ya itu ... daun kelapanya saya buat ayunan ehh ternyata buah kelapa yang kering jatuh mengenai kepala saya   .  Ke empat temannya hanya bisa tertawa terpingkal pingkal mendengar cerita dai Imam.

Karena kebersamaan Itu Lebih Mengasikkan 

~ Che , Cerpen kebersamaan ~

Post a Comment

 
Top