2


Segerombolan anak muda lagi asik nongkrong di sebuah warung kopi kaki lima. Aku belum tahu kenapa disebut kaki lima padahal penjualnya berkaki dua hehehe. Jika dihitung semuanya ada tujuh orang, dengan tampang dan perawakan yang berbeda-beda. Mereka asik ngobrol dan sering pula terdengar ejekan diantara obrolan mereka. Ya begitulah asiknya nongkrong di warung kopi. Dari warung kopi yang harga segelasnya hanya dua ribu rupiah saja maka akan tercipta keakraban. Interaksi sosial di warung kopi sangat berbeda dengan di warung – warung yang telah modern. Alasannya adalah jika kita minum di warung modern katakanlah kafe atau restoran maka kita akan sedikit canggung untuk bersuara keras. Jika kita bersuara keras dan ngobrol rame – rame sampai tertawa terbahak – bahak maka kita dianggap orang yang tidak tahu diri. Makanya kalau aku sendiri sih mending pilih di warung kopi pinggir jalan , lebih asik dan lebih banyak inspirasi.


Keceriaan ke tujuh anak muda tersebut terus berlanjut. Terlihat empat anak diantara mereka sedang asik main kartu remi. Jika ada yang kalah tak segan wajah temannya yang kalah tersebut dicoret pakai ampas kopi, hehehe lucu dan mengasikkan. Sepiring gorengan tersaji di hadapan mereka. Satu buahnya seharga lima ratus rupiah. Harga yang pas bagi orang – orang berpenghasilan kecil seperti kami ini. 

Kehebohan  mereka bersenda gurau seakan mengalahkan hebohnya  berita saat ini tentang Pilkada. Yaaah itu lagi dan itu lagi kayak tidak ada berita lain. Males ahh mending menikmati secangkir kopi panas.

Semakin malam warung kopi kaki lima ini semakin ramai. Anak – anak muda yang sering keluar malam untuk menikmati angin malam terus berdatangan. 
Jika yang satu pulang maka akan datang penikmat kopi yang lain. Warung kopi ini memang menjadi idaman bagi anak – anak muda. Letaknya tidak jauh dari perempatan lampu merah dan sering memutarkan musik – musik country.


Pada malam itu akupun bergabung dengan mereka di warung kopi tersebut. Perutku sedikit mulas karena tadi makan sayur agak pedas yang merupakan pantangan bagi suasana perutku. Perutku mulai bergejolak laksana air laut yang sedang pasang. Terasa akan buang angin manun aku diam dan menahannya. Beberapa saat kemudian. ....................................( suaranya tidak terdengar, hanya beraroma khas hehehe )

“ sapa yang kentut “

“ iya sapa yang kentut “

“ pasti antok yang kentut “

“ kurang ajar baunya tidak enak “

“ sapa yang kentut “

Beberapa teman yang ngopi disitu saling mencari pelaku, seakan kentut menjadi masalah yang harus dicari pelakunya untuk di hukum.

Aku pun kemudian berkata “ sudahlah kawan, itu kan Cuma kentut, tak perlulah jadi rebutan “

Keramian mencari pelaku tadi pelan – pelan terhenti dan salah satu anak berceloteh “ kita jadi goblok, kentut saja direbutin “

Dan aku Cuma ketawa hahahahahaha

Terkadang Kita Tidak Selalu berfikir Realistis

~ Che, Cerpen warung kopi ~

Post a Comment

 
Top