0
Betapa bangganya aku hidup di desa. Jauh dari polusi dan jauh pula dari hiruk pikuk perkotaan. Tidak ada kemacetan hanya sesekali ada banjir yang memang sudah biasa terjadi.
Di desa itu banyak kemurahan. Mau masak sayur apa saja kita tinggal ambil dari belakang rumah. Lawong dari pagar pembatas tanah saja aku sudah bisa mendapatkan bakal sayur secara gratis.
Belum lagi kekompakan warganya. Bahu membahu yang biasa disebut gotong - royong sudah menjadi menu wajib dalam interaksi sosial warganya.
Meski penghasilan pas - pasan nyatanya tidak ada orang yang mati karena pangan.
Tanah begitu subur sebab tidak ditanami gedung. Anak - anak bermain lepas di tanah - tanah lapang yang juga tumbuh liar rerumputan.
Bayangkan jika aku ini hidup di kota besar. Saking besarnya bahkan terlihat senakin kecil karena begitu banyak gedung pencakar langit.
Kemacetan selalu menjadi biang kerok perdebatan yang tidak ada ujungnya.
Belum lagi masalah isi perut yang harus serba beli. Meski banyak warung, toko dan sebagainya yang menyediakan makanan nyatanya sudah di monopoli oleh kaum borjuis. Kalau seperti aku ini mana mampu menikmati dan nongkrong di warung - warung mereka.
Meski banyak yang mengeluh hidup di kota , nyatanya mereka tak mau hidup di desa. Pun sebaliknya orang desa yang hidup serba penuh kedamaian nyatanya mereka banyak yang ingin pindah ke kota.

Berfikirlah sederhana , seberapapun banyaknya uang yang paling penting adalah kenyamanan hidup. Aku sungguh bangga hidup di desa.

Post a Comment

 
Top