0
Anak - anak kepiting berlarian diantara sungai dan laut. Berjalan berjajar entah mau kemana. Bergulung - gulung ombak datang dan menghempas anak - anak kepiting itu. Merekapun kembali mendekati laut dan harus mengulangi lagi perjalanannya. Sungguh perjuangan yang teramat berat baginya. Tubuhnya yang mungil dan masih rapuh. Tentu saja hempasan ombak itu menjadi tantangan luar biasa baginya. Tidak aku hitung berapa jumlahnya yang jelas mencari ribuan. Seperti kebiasaan anak kecil mereka tahunya bermain tanpa memahami resiko apa yang mengancamnya. Predator alam menanti untuk memangsanya tentunya hanya menyisakan yang benar - benar siap untuk melalui seleksi alam.

PANTAI GEMAWING DESA MASARAN KEC. MUNJUNGAN KAB. TRENGGALEK, JAWA TIMUR

Aku memandangnya dari bawah batu karang yang ditumbuhi sebatang pohon. Batu karang itu tak beraturan bentuknya. Ia terkikis oleh air laut, angin dan juga terik matahari setiap harinya. Hasil pengikisan itu sebagian aku pijaki karena telah menjadi pasir dan menjadikan pantai ini kian terlihat indah. Hamparan pasir itu kujadikan mainan dan kutiskan sebuah kalimat " I Love You " yang sengaja kutujukan kepada istriku.
Aku tahu bahwa istriku juga tak kalah tangguh dari batu karang. Setiap hari ia harus merawat dan mengasihi anak - anaknya ditambah lagi mempersiapkan ini itu untuk makan keluarga dan segala kegiatan yang tidak pernah aku lakukan tentunya menjadi sebuah keharusan bagi istriku. Aku mulai berfikir apakah aku ini sudah menjadi suami yang baik ? lawong terkadang sarapan belum masak saja aku masih emosi. Sunguh aku merasa malu yang disaksikan gemuruh ombak.

>>> Baca Juga :
BERSANDAR DI TEPIAN JURUK ANGIN
 

Disisi lainnya kulihat genangan air yang disebut pancer. Disitu kudapati segerombolan ikan yang berkejaran. Tentunya ikan - ikan itu harus menyesuaikan diri dengan lingkungan pancer itu. Tidak serta merta mereka nyemplung lalu hidup. Mereka harus mengatur nafas mereka, kadar oksigen , nutrisi dan segala tetek bengeknya tentunya berbeda dari air laut. ketersediaan makanan pun tentunya tidak melimpah seperti apa yang ada dilautan dan mereka pun harus bersaing dengan penghuni lain yang ada di pancer itu.

Dari ketiga hal itu aku belajar. Bahwa hidup itu butuh penyesuaian. Hidup itu butuh perjuangan. Hidup itu penuh pengorbanan. Aku tentunya tidak bisa menata hidupku sedimikian rupa dan kuatur sesuai keinginanku. Ada sebuah rahasia hidup yang bisa saja ditunjukkan sebagai sebuah ujian atau tantangan. Maka itu semua aku mencoba belajar iklas agar tidak menjadi sombong.
Terimakasih pantai yang indah. Darimu dan sekitarmu kudapat belajar. Indahmu menyejukkan pikiranku. Tegarmu menguatkan hatiku. Gemawing aku tansah eling.

Post a Comment

 
Top