0
  Sore itu kulangkahkan kaki menuruni jalan setapak diantara ladang warga. Aku menuju satu tempat yaitu pada sebuah air terjun. Tak berapa lama akupun sampai. Bulir air terasa menerpa tubuhku. Melayang terbawa lembut sepoi angin. Di bawah air terjun menawan kusandarkan tubuhku pada pagar jembatan bambu. Sejuk kurasakan hingga penat ditubuhku ini semakin hilang.

JURUK ANGIN DESA WATUAGUNG KECAMATAN DONGKO KABUPATEN TRENGGALEK, JAWA TIMUR.





  Kupandangi burung - burung sriti beterbangan diatas kolam air terjun itu. Burung itu terlihat membasahi bulu - bulunya sambil terbang kian kemari. Mereka seakan menikmati segar dan melimpahnya air kolam itu. Mereka mungkin tidak berfikir apakah air disitu akan selalu ada hingga beberapa puluh tahun lagi,  ah setidaknya hari ini masih ada air mungkin begitu pikirnya.

>>> Baca Juga :
CARA BIJAK MENCURI AYAM

  Air terjun itu mengalir dari sungai kecil yang membelah sawah diatasnya. Hulunya berada dikawasan hutan yang tak lagi rimbun. Meski begitu sawah - sawah yang mendapati jatah air dari sungai itu menjadi subur. Padi pun menguning dan panen. Palawija pun tegak bersahaja menyiratkan harapan.
Semua karena air. Mata - mata air selayaknya harus kita jaga untuk kelangsungan kehidupan. Seperti mata air disini yang selanjutnya menuju  sungai dan kemudian jatuh ditebing hingga menjadi air terjun. Aliran air mengular menuju samudra. Jernihnya mampu menghilangkan dahaga dan membasai tenggorokan serta mampu menghidupi sendi - sendi kehidupan manusia.

  Aku ambil air dengan kedua tanganku lalu kubasuhkan air itu ke mukaku " segar benar air ini " begitu gumamku saat ku rasakan dingin dan segarnya wajahku terkena air tadi. Sebenarnya air itu tidak begitu bersih  karena sudah  tercampur dengan lumpur - lumpur sawah. Akupun sejenak bermain air tepat dibawah air terjun. Berselfi ria biar kekinian dan nanti sampai rumah akan kulihatkan pada anakku dan ku katakan " ini lo nak manfaat lain dari adanya air " dan sembari berharap anakku nanti memahami betapa air itu sangat vital bagi manusia. Kelak jika anakku itu sudah dewasa ia mampu menghargai air setidaknya ia tidak ikut - ikutan merusak alam ini sebagai tempat penyedia air.

  Manusia sering lupa dan serakah. Mereka berlomba menuangkan cor - cor beton untuk gaya hidupnya tanpa peduli kerusakan lingkungan. Rumput liar tak mampu tumbuh, tetes hujan tak mampu menembus tanah bahkan hutan pun digunduli. Mata air kian merana dan nestapa.  Ibarat kata jangan menunggu mata air menjadi air mata. 

Post a Comment

 
Top