0

Semerbak wangi khas ikan bakar memaksaku untuk menoleh. Heeemmm aku semakin tergoda dan air liurku mulai bergejolak. Aku tak mampu lagi membendung hasratku. Tergodalah aku melangkah menuju warung ikan bakar itu. Kupesan tiga buah ikan tongkol bakar meski aku hanya berdua dengan temanku saat itu. Dalam benakku aku kan makan dan menikmati ikan bakar itu jika kurang aku akan pesan lagi.

Tidak berapa lama perempuan paruh baya menuju meja makan yang aku tempati. " ini mas ikan bakar sama nasi tiwulnya " sapa perempuan paruh baya itu sambil menaruh pesananku tadi satu persatu. Segelas air kelapa muda dengan pemanis gula jawa menambah lengkap gizi yang akan masuk kelambungku.


PANTAI KONANG DESA NGLEBENG KEC. PANGGUL KAB. TRENGGALEK , JAWA TIMUR

Aku mulai menikmati ikan bakar itu sambil memandangi ombak pantai yang saling berlomba menggapai daratan. Silih berganti tanpa henti dan seakan menari pada panggung samudra. Suara gemuruh ombak seakan menjadi musik pengiring hingga mata dan telinga dibuat kagum terpesona.
Hampir habis ikan yang tadi terhidang dihadapanku. Menyisakan duri - duri ikan dan kuberikan pada kucing telon yang sedari tadi telah menunggu disamping kaki kananku. " Meong " kucing itu seakan memberi isyarat bahwa dia berterima kasih kepadaku. Dia tidak menyadari bahwa apa yang kuberikan tadi adalah sisa makananku. Kucing itu mungkin rakus karena apa saja dia makan akan tetapi akulah  yang terlalu egois hingga berani memandang remeh makluk yang sama - sama ciptaan Tuhan itu.
Oh teganya diriku, harusnya tadi satu ikan bakar itu kuberikan pada kucing itu. Toh dia tidak pernah korupsi dan menipu rakyat. Dia tidak pernah merengek  - rengek minta dibuatkan kandang yang bagus meski kandangnya miring sepuluh derajat.

>>> Baca Juga : 


Dari kucing telon itu aku mulai membayangkan tentang orang - orang disana yang telah diberi kepercayaan. Mereka mendapatkan gaji , tunjangan , tunggangan dan semua keistimewaan melekat kepadanya. Banyak dari mereka yang tulus mengabdi , akan tetapi banyak pula diantara mereka yang hanya berfikir tentang materi. Kemudian terdengarlah berita tentang penangkapan salah seorang diantara mereka melakukan korupsi. Aku tidak kaget, bagiku sudah seperti dijadikan adat. Apalagi beberapa kasus korupsi itu melibatkan banyak orang. Yang menjadi pertanyaanku, apakah para koruptor itu memang ada diklatnya ? Lalu siapa yang menjadi imam dan siapa yang menjadi makmum ? Hemmm aku cuma bisa bergumam

Pantai konang hari itu benar - benar menjadi guru bagiku. Suatu hari nanti aku kan kembali. Menikmati ikan bakar ditemani gemuruh ombak.

Post a Comment

 
Top