0
Mobil bak terbuka atau pick up merupakan alat transportasi yang diperuntukkan  mengangkut barang.  Kenyataannya di beberapa daerah pedesaan mobil pick up ini digunakan juga untuk mengankut orang. Ini dikarenakan ketiadaannya mobil angkutan pedesaan yang standar. Tidak ada trayek yang menuju jalur – jalur sempit di daerah pedesaan, mau tidak mau maka mobil pick up inilah yang kemudian digunakan untuk mengangkut orang.
by google/mediatataruang


Ketika hari pasaran, maka lalu lalang mobil pickup yang mengangkut orang akan semakin ramai. Kebanyakan orang – orang daerah pedesaan akan berbelanja ke pasar saat hari pasara tersebut.. Tak jarang pula mereka berbelanja kebutuhan sehari – hari dalam waktu seminggu sekali bahkan sebulan sekali. Setiap berbelanja, maka mereka akan membeli banyak barang kebutuhan untuk persiapan dalam jangka waktu yang relatif lama. Keberadaan pasar yang jauh dari rumah, serta kondisi jalanan yang relatif meliuk – liuk, menanjak dan menurun serta minimnya transportasi yang memadai maka memaksa mereka untuk berbelanja dalam jumlah yang banyak.

Kegiatan berbelanja ini lazimnya dilakukan oleh kaum perempuan. Biasanya mereka berbelanja untuk mereka jual kembali. Dirumah mereka terdapat pula toko/warung kecil – kecilan yang menjual barang kebutuhan sehari – hari. Maka tidak heran jika belanjaan mereka banyak.

ketika membawa barang dagangan, maka setiap sudut mobil pick up akan dijejali oleh berbagai barang – barang yang mereka beli. Bahkan di bagian besi pembatas yang ada di bak pick up juga bergelantungan barang dagangan. Besi pembatas ini atau biasa disebut sepanten adalah modifikasi dari pemilik pick up tersebut. Jerigen yang berisi minyak goreng dan sebagainya akan digantungkan dengan tali yang telah dipersiapkan sebelumnya. Seperti hiasan saat karnaval agustusan hehehe.

Untuk tingkat keamaan, penggunaan mobil pick up dalam mengangkut orang sebenarnya tidaklah aman. Kita tau bahwa mobil pick up adalah mobil bak terbuka. Penumpang dituntut harus hati – hati dan waspada. Di daerah pedesaan masih banyak pohon – pohon yang ada di pinggir jalan, tentunya banyak ranting yang mengarah ke jalan kalau tidak hati-hati maka akan terkena ranting tersebut saat mobil melaju. Belum lagi ketika jalanan menanjak atau menurun. Para penumpang harus menjaga keselamatannya sendiri. Mereka harus mencari pegangan agar tidak terjatuh saat mobil pick up melaju.

Meski begitu tidak ada rasa takut pada para penumpang tersebut. Faktor keterpaksaan yang berubah menjadi kebiasaan pada akhirnya mengubah rasa takut mereka menjadi sebuah kewajaran. Kebutuhan hidup dan kebutuhan mencari ekonomi membuat para perempuan – perempuan tersebut menjadi tangguh. Tak jarang pula mereka harus berangkat pagi – pagi disaat kabut masih menyelimuti jalanan. Disaat yang lain masih terlelap bersama mimpi, para perempuan tangguh ini pun sudah harus melawan rasa takut mereka.

Di sisi lain, mereka harus juga pintar menawar barang yang akan dibeli. Keuntungan sedikit akan sangat bermanfaat untuk modal mereka berdagang kecil – kecilan. Hidup didesa itu rasa yang selalu ada adalah rasa peduli. Disaat tetangganya membutuhkan dan tak mampu membeli, maka  pemilik warung/toko rela pula memberikan barang secara cuma – cuma. Jika dihitung dengan resiko dan lain – lain maka si pemilik warung itu akan rugi banyak, namun itulah bentuk kerukunan masyarakat desa. Hidup  itu  tidak melulu mencari untung, tetapi hidup itu mengupayakan agar menjadi orang yang beruntung. Inilah nikmatnya hidup di desa meski dengan segala keterbatasan dan resiko.

Post a Comment

 
Top