0

Kelas VI Sekolah Suka Maju memiliki murid yang berjumlah 18 anak. 10 anak laki – laki dan 8 anak perempuan. Kelas VI dikenal sebagai kelas dengan anak – anak yang bandel dan tidak penurut. Para guru merasa tidak mampu saat mengajar di kelas tersebut. Baik anak laki – laki ataupun perempuannya sama – sama bandel dan sulit diatur. Mereka selalu ramai meskipun ada guru didalam kelas. Setiap hari ada saja tinggkah anak – anak di kelas tersebut. Saking ramainya oleh para guru disebut kelas bebek, karena ramainya seperti gerombolan bebek saat berebut makan.

Guru sekarang ini memang tidak lagi bisa berbuat seperti zaman orde baru. Adanya kasus yang menimpa guru saat memberikan sanksi kepada siswanya yangkemudian disalah artikan oleh orang tua anak, seakan menjadi pemicu ketakutan para guru untuk memberi sanksi kepada siswanya. Sekarang ini seakan para guru terkungkung oleh ketakutannya, jika ini terus terjadi maka bisa jadi pendidikan di negeri ini akan semakin merosot.



Suatu hari di kelas VI tersebut ada pelajaran matematika. Seluruh siswa tampak tidak menyukai pelajaran tersebut. Ketika guru menjelaskan pelajaran tersebut terdengar teriakan dari anak – anak “ huuuuu bosan pak “. Pak guru sebut saja namanya Budi sangatlah sabar ia berupaya untuk membuat pelajaran itu senang. Tiba saatnya bel berbunyi tanda istirahat “ teng teng    teng teng “. Setelah itu seluruh siswa keluar kelas untuk istirahat. Beberapa siswa berada di dalam kelas. Mereka mengambil kapur didalam kotak kapur lalu digunakan untuk bermain. Mereka main lempar – lemparan kapur dan ada juga yang mencorat – coret papan tulis. Hingga sampai pada akhirnya seluruh kapur yang ada di kotak kapu itu habis tidak tersisa. Anak – anak tersebut rupanya sengaja menghabiskan kapur tersebut agar nantinya Pak guru tidak mengajarkan pelajara matematika.

“ teng teng teng “  bel tanda selesai istirahat berbunyi. Seluruh siswa kembali masuk kelas. Sehabis istirahat pembelajarannya masih matematika. Hari itu pembelajaran matematikanya membahas tentang Sistem Kordinat. Pak guru pun kembali masuk kelas. Didapatinya kotak kapur yang kosong.
“ anak – anak siapa yang mengambil kapur ? “ tanya pak guru kepada seluruh siswa. Satu pun siswa tak ada yang menjawab dan hanya terlihat potongan kapur kecil – kecil yang berserakan dilantai. Pak guru tersenyum lalu berkata “ sudah tidak apa – apa , kalian dengarkan penjelasan saya ya “
Lalu pak guru menjelaskan sistem kordinat. Beberapa murid tampak bercakap –cakap dan tidak mempehatikan pelajaran. Mereka asik bermain sendiri dan sesekali pak guru tersebut mengingatkan agar anak tersebut tidak ramai. Sampai akhirnya pelajaran pun berakhir.

**********
Tiga bulan kemudian diadakanlah Ujian Akhir semester. Seluruh siswa mengikutinya. Mata pelajaran Matematika diujikan pada hari Rabu. Soal pun dibagikan kepada seluruh siswa kelas VI. Didalam soal tersebut terdapat pertanyaan tentang sistem kordianat. Tampak wajah anak – anak tersebut gelisah karena tidak tau bagaimana cara menjawab soal tersebut.

Seminggu setelahnya Raport pun dibagikan dan nilai matematika anak – anak tersebut jeblok. Nilai 5 dengan warna merah. Para orang tua memarahi anak – anaknya yang mendapat nilai jelek. Para orang tua tersebut mencari tau apa penyebab dan ternyata penyebabnya adalah kenakalan anak – anaknya saat diberi pelajaran. Beberapa orang tua menghukum anaknya dengan berbagai bentuk hukaman. Ada yang menghukum dengan cara tidak memberi uang saku dan sebagainya.
Anak – anak tersebut merasa malu dan bersalah. Merekapun kemudian meminta maaf kepada gurunya. Mereka mengakui kesalahnanya dan berjanji untuk tidak nakal lagi.

>tulisan ini kupersembahkan untuk para guru yang telah berjasa membangun mimpi menuju kesuksesan. Terima kasih guruku.

Post a Comment

 
Top