0
Bagi generasi muda zaman sekarang, makanan cepat saji sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka. 
Restoran, kafe ataupun resto seakan berlomba menyajikan menu - menu makanan cepat saji. Baik itu makanan dari luar negeri ataupun makanan Indonesia yang telah di kreasi sedemikian rupa. Tentunya makanan tersebut harganya ya lumayan mahal bagi orang kampung yang tak tentu dapat uang setiap hari.



Perlu diketahui bagi generasi sekarang, bahwa zaman dulu pun negeri ini memiliki makanan siap saji. Jauh berbeda dengan sekarang yang cenderung untuk gaya hidup, makanan cepat saji zaman dulu diperuntukkan karena menghemat biaya dan juga lebih kepada keterpaksaan. Maklum saja zaman dahulu apa sih yang tidak sulit? semua serba sulit. Maka dari itu harus ada cara agar memudahkan kesulitan - kesulitan itu.
Apa saja makanan cepat saji zaman dahulu ?

1. Nasi dan Minyak
Orang Jawa menyebutnya Sego Jlantah. Sego yaitu nasi dan Jlantah yaitu minyak goreng. Jangan berfikir minyak goreng yang dipakai adalah minyak goreng yang masih baru dan bersih, tetapi minyak goreng yang dipakai adalah minyak goreng bekas penggorengan, makanya disebut jlantah.
Nasi akan dicampur dengan jlantah tersebut dan kemudian dimakan. Apa enak ? bukan hanya enak tapi sangat nikmat. Iya, dapat menikmati nasi disaat negeri ini masih sulit rasanya suatu kebanggaan tersendiri. Bukannya tak mampu beli lauk yang enak, tetapi memang kondisi uang saat itu masih seperti misteri.

2. Nasi dan Garam
Iya nasi dicampur garam. Alasannya ya sama, yaitu karena serba sulit. Mencari ekonomi seperti mencari jarum di dalam jerami.

3. Nasi dan Parutan Kelapa
Tentunya nasi dicampur parutan kelapa. Rasanya enak dan mungkin saja dari sinilah inspirasi kuliner saat ini yang memakai bahan nasi dan parutan kelapa. Hanya saja kelapa pun terkadang sulit didapat.

Itulah kiranya penggambaran makanan cepat saji zaman dahulu. Sebenarnya sih bukan cepat saji, namun lebih kepada agar bisa makan tanpa harus membeli lauk yang mahal. 
Kesederhanaan orang zaman dahulu patut dicontoh. Jarang mengeluh meski semua serba sulit. Hidup bukan hanya bagaimana agar dapat makan, akan tetapi hidup adalah bagaimana mensyukuri nikmat Tuhan.

Post a Comment

 
Top