0
Kita mengenal istilah Moksa disaat jaman kerajaan dahulu. Sebut saja pradu Jaya Baya yang menurut sejarahnya moksa. Tempat Moksanya dipercaya di Pamenang , Kediri Jawa Timur. Seakan di era modern Moksa hanya menjadi sejarah masa lalu, namun pada kenyataannya di era modern pun masih ada Moksa mesti sudut pandangnya berbeda. Moksa pada zaman raja-raja dikenal dengan menghilangnya para raja menuju nirwana. Tidak ada jasad yang ditinggalkan jadi kemana ia pergi pun tidak dapat diketahui.



Coba pikiran kita, kita kembalikan di era 90 an sebut saja di era 98 yang sangat fenomenal. Tahun 1998 menjadi awal menuju perubahan bangsa ini. Mahasiswa banyak yang turun ke jalan, aktivis banyak yang menyuarakan untuk perubahan. Hingga terjadilan pertikaian antara pihak A dan pihak B ( *maaf tidak saya sebut ) dan terjadilah pe Moksa an disalah satu pihak yaitu para aktivis.

Siapa dalang dibalik semua ini, sampai saat ini belum terkuak kebenarannya. Simpang siur siapa yang harus bertanggung jawab seakan masih menjadi polemik di negeri ini. Beberapa pergantian Presiden pun tidak kunjung juga membuahkan hasalang di balik semua ini.
Para aktivis yang Moksa samapai saat ini tidak jelas keberadaannya. Entah hidup atau mati yang jelas aktivis ini telah mengalami Moksa atau pe Moksa an.


Salah satu aktivis yang mengalami pe Moksa an itu adalah Widji Thukul. Mengutip dari wikipedia nama aslinya widji Widodo. Ia mengalami cacat mata kanan setelah dibenturkan ke mobil. Widji Thukul memang sangat getol menyuarakan keadilan.

Widji Thukul juga terkenal lewat karya - karya puisinya hingga satu kata yang paling terkenal adalah Lawan ! yang terus dipakai para aktivis hingga saat ini. Widji Thukul tidak sendiri, ada beberapa aktivis yang sampai saat ini masih Moksa.

Apakah nantinya para aktivis itu akan kembali ? ataukah akan tetap Moksa hingga akhir ? sungguh sebuah tanya yang tak berujung jawab. Jika semua yang mengetahui berlaku diam dan bohong maka Moksa para aktivis itu akan tetap abadi.

>>> Baca Juga
CERPEN MENIKMATI INDAHNYA PANTAI NGAMPIRAN

Sebuah Pe Moksa an yang seharusnya tak terulang lagi. Hukum harum tegak setegak - tegaknya. Berpendapat haruslah bebas, jikalaupu nantinya ada makar ataupun melawan hukum, bukanlah pe moksa an yang harus dilakukan, tetapi pendekatan khusus kenapa dan mengapa mereka melakukan seperti itu. Hukum harus manusiawi bukan hukum rimba karena kita bukan berada di hutan tapi di negeri yang ber Pancasila.

tag : moksa, aktivis. pejuang, 98, cerita, opini

Post a Comment

 
Top