0
22 Desember diperingati sebagai hari ibu. Sebuah penghormatan  untuk para ibu yang jasanya sangat besar. Sembilan bulan mengandung dan perjuangan melahirkan yang tak mungkin dirasakan oleh kaum lelaki. Belum lagi perjuangan membesarkan anak - anaknya dari menyusui, menyuapi hingga anak - anaknya cukup sekolah. Ibu sebuah pendedikasian diri sebagai bentuk penerimaan anugerah Tuhan. Ibu bukanlah sekedar sapaan belaka, namun jauh di dalamnya memiliki makna dan juga perjuangan yang tiada terkira.

Ibu adalah perempuan, akan tetapi tidak semua perempuan layak disebut sebagai ibu. Banyak perempuan melahirkan, tetapi banyak pula yang justru tidak mengakui anak yang mereka lahirkan itu. Berita di televisi, koran dan radio tentang kebejatan perempuan sekarang ini. Banyak bayi yang baru saja dilahirkan dibuang begitu saja ditempat yang tidak layak. Bahkan beberapa diantaranya telah disiksa terlebih dahulu sebelum dibuang.

Naluri keibuan dari perempuan yang membuang bayi tersebut telah berganti menjadi naluri kebringasan layaknya manusia tanpa moral. Dengan alasan menutupi aib dan juga untuk menghindari rasa malu dari perbuatannya, mereka justru membuang bayi yang jelas - jelas hanya sebagai akibat nafsu mereka. Sungguh beberapa perempuan telah mengalami perubahan naluri keibuannya. Dampak pergaulan tanpa kontrol dan pola pikir yang kebablasan.

Di daerah pedesaan yang utamanya di daerah pelosok desa banyak perempuan yang justru bermetamorfosis menjadi perempuan tangguh. Setiap pagi mereka harus bangun pagi untuk memasak dan setelah itu bergegas ke ladang ataupun kehutan. Mereka harus membantu suaminya untuk mencari ekonomi. Kodrat sebagai perempuan yang seharusnya berkulit kuning langsat , mulus dan halus harus mereka lawan demi ekonomi. Otot mereka menjadi kekar dan tenaga mereka setara dengan para lelaki. Mereka harus memastikan bahwa besuk ada nasi untuk dimakan keluarga.

Jauh di daerah metropolitan para perempuan pun berjibaku untuk mengubah nasibnya menjadi perempuan karier. Sekarang ini banyak perempuan yang telah menempati posisi layak misalnya sebagai anggota dewan. Suara perempuan tak lagi didengar remeh dan perempuan kini telah dihargai keberadaanya. Mereka tak melulu hanya sebagai ibu rumah tangga. Kesejaharan kaum perempuan dengan para laki - laki saat ini telah diakui.

Perempuan dan naluri keibuan adalah sebuah identitas yang telah melekat. Selamat hari Ibu. Semoga para Ibu mendapat balasan dari Tuhan sesuai kebaikan mereka.

Post a Comment

 
Top