0
Suatu ketika Arman sedang berjalan - jalan di dekat persawahan. Ia melihat segerombolan burung sedang hinggap di ranting kering. Muncullah hasratnya untuk memburu burung tersebut dengan cara menembaknya dengan ketapel.

Kemudian Arman pun pulang kerumah untuk mengambil ketapel. Bergegas ia agar burung - burung itu tidak keburu kabur. Ketapel telah ditangannya lalu ia cepat- cepat kembali ke sawah itu. Setelah sampai Arman lalu mengendap - endap dibawah rumpun pisang.

Ia mengambil kerikil sebesar ibu jari. Ditempatkannya kerikil itu pada bagian tempat menaruh amunisi pada ketapeknya. Mulailah ketapel ditarik dan karet ketapel mulai melar. Arman pun membidik segerombolan burung yang sedang bertengger. Wussss kerikil melesat cepat melebihi kecepatan angin.

" aduuuuuh aw aw aw " terdengar suara dari semak - semak.
" wah itu jenis burung apa kok bisa mirip suara manusia " gumam Arman sambil setengah berdiri ditempat persembunyiannya
" sialan siapa yang melempariku dengan batu " muncullah seseorang sari semak - semak. Orang tersebut adalah kakek Arman sendiri rupanya. Kakek Arman tidak sengaja terkena lontaran kerikil tadi. Arman tetap bersembunyi ia takut untuk memperlihatkan diri.

" awas ya, siapapun yang melemparku , saya doa'kan burungnya hilang " ucap kakek itu.
" maaf kek aku tadi yang bermain ketapel " Arman pun muncul dari persembunyiannya dan memohon maaf pada kakeknya. Arman merasa takut dengan doa kakeknya. Ia tidak mau burunnya hilang.

Kakek Arman tertawa sambil berkata " kamu apa punya burung ? La dirumahmu adanya cuma kucing "
Arman hanya bisa clingak clinguk karena tlah berfikir negatif tentang doa tadi

Post a Comment

 
Top