0
Berita tentang angin siklon atau badai  beberapa minggu ini terus menghiasi berbagai media. Dampak kerusakan dari terjangan siklon terjadi dimana - mana. Banjir, longsor, pohon tumbang seakan mewakili keganasan sang siklon. Menarik untuk kita ketahui adalah nama - nama siklon yang ada di Indonesia. Kalau di luar negeri cenderung dinamakan seperti nama orang, berbeda dengan Indonesia. Di indonesia nama - nama siklon menggunakan nama bunga.


Kita ambil contoh siklon cempaka yang baru saja menghebohkan karena dampaknya.

Lalu kenapa dinamakan dengan nama bunga ?
Coba jika siklon itu dinamakan siklon neraka, apa yang ada dalam benak kita ?
Tentunya mendengar namanya saja kita sudah takut dan menjadi panik.  Inilah salah satu alasan kenapa nama siklon tersebut dinamakan dengan nama bunga. Dengan memakai nama bunga diharapkan masyarakat tidak ketakutan dan tidak panik, karena jika ketakutan dan panik justru malah menjadi penyebab terjadinya korban jiwa. Kepanikan menyebabkan orang cenderung tidak berfikir jernih. Mereka akan berupaya menyelamatkan diri tanpa berfikir resikonya. Cara meminimalisir jatuhnya korban jiwa adalah dengan membuat nama siklon lebih lembut atau lebih bersahabat.
Padahal sejatinya siklon adalah angin yang  tergolong dahsyat. Kecepatannya bisa lebih dari 100km/jam. Kedahsyatan tersebut pelan - pelan akan dikikis melalui pemikiran masyarakat. Dengan kata lain, nama bunga mewakili pendoktrian pemikiran terhadap siklon tersebut. Masyarakat diharapkan tidak takut dan panik diawal.

Setiap siklon dinamakan sediri - sendiri. Baru saja selesai siklon Cempaka kini ada lagi Siklon Dahlia.
Kawasan samudra hindia merupakan tempat awal tumbuhnya siklon ini. Siklon bergerak melalui samudra yang menyebabkan gelombang tinggi dan membuat para nelayan tidak berani melaut. Kalau sudah begitu maka akan berdampak pada kelangkaan ikan laut di pasaran dan kalaupun ada harganya cukup mahal. Perahu nelayan yang terparkir pun tak pelak kena hantaman siklon dan bisa menyebabkan kerusakan pada kapal. Siklon pun terus bergeraj menuju daratan yang jika dibarengi dengan curah hujan yang tinggi maka akan menyebabkan banjir.

Pacitan, Wonogiri dan kawasan selatan Jawa merasakan dampak dari siklon tersebut. Masyarakat harus mengungsi karena rumahnya terendam banjir bahkan longsor. Aktufitas terganggu, jaringan listrik dan telekomunikasi sempat terputus. Korban jiwa pun berjatuhan akibat dampak siklon tersebut. Kerugian materiil pun tak terelakkan lagi.

Fenomena alam ini terjadi setiap  waktu tertentu. Kesiap siagaan masyarakat dalam menghadapi bencana sangatlah mutlak, apalagi Indonesia adalah kepulauan yang dikelilingi lautan. Bisa jadi di tahun - tahun mendatang siklon - siklon lain bermunculan. Maka dari itu masyarakat harus siap.

Belajar dari siklon cempaka dan juga siklon dahlia ini, selayaknya di masa yang akan datang kita telah siap dengan setiap bencana.

* inter mezzo saja, Kalau boleh aku namakan , aku lebih memilih menamakan siklon Nela Kharisma biar semua joget dangdut hehehe.

Post a Comment

 
Top