0
PETANI DAN BURUNG

Petani dan burung merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Petani erat kaitannya dengan burung – burung pemakan biji – bijian. Setiap kali padi mulai berisi burung pun selalu menyapa petani. Burung – burung  akan hinggap di ujung – ujung padi untuk makan bulir padi yang berisi tadi. Para burung itu tau kapan padi mulai berisi dan siap mereka konsumsi. Di saat petani lengah, tak segan mereka menyerbu dengan kelompoknya. Suasanan sawah yang tenang dengan semilir angin, menjadi riuh oleh cicitan burung – burung yang terbang kian kemari. Mereka berakrobat diantara tanaman padi. Lenggak – lenggok batang padi tertiup angin bagai panggung sirkus mereka.

Pun begitu, petani juga tak kalah akal untuk mengusir burung – burung itu tanpa harus membunuhnya. Orang – orangan sawah mereka buat untuk mengelabuhi para burung. Baju dan celana bekas serta jerami yang sudah kering mereka bentuk menyerupai manusia. Orang – orangan sawah itu akan bergerak manakala tertiup angin. Namanya saja burung apalagi mereka tidak pernah sekolah, mereka akan cuek saja dengan keberadaan orang – orangan sawah itu. Jikalaupun mereka kabur, itu karena mereka sudah kenyang atau pindah ke bagian lain.

Bila menggunakan orang – orangan sawah tidak berhasil, maka petani pun tak kurang akal. Petani mencari kain perca ataupun plastik. Kemudian petani akan menempatkan benda tersebut pada seutas tali panjang yang mereka bentangkan sepanjang sawah mereka. Dengan tiupan angin, kain ataupun plastik tersebut akan melambai lambai dan menjadikan burung kaget lalu kabur. Lama kelamaan burungpun hafal dengan ini semua. Para burung tak lagi takut dan asik saja mereka makan.
Lagi – lagi petani tak kehabisan ide. Dibuatkanlan kitiran atau baling – baling bambu yang diberi kaleng dan jika ada tiupan angin kaleng itu mengeluarkan bunyi karena pukulan dari kitiran tadi. Suaranya menggelegar dan burungpun kabur karena kaget. Kian lama burung pun juga hafal, mereka tak lagi takut dengan kitiran. Para burung makan dengan lahap dan serasa dimainkan musik oleh petani.

Kecerdasan petani tidak sampai disitu. Setelah itu semua masih gagal mereka pun akan membuat keprekan dari bambu. Keprean itu akan berbunyi manakala talinya ditarik oleh seseotang. Setiap hari petani harus berada di samping keprean itu untuk berjaga – jaga. Manakala ada burung yang turun kesawahnya maka petani akan menarik tali dan kemudian keprean itu berbunyi. Burung pun lari tunggang langgang dan merasa takut.


Petani dan burung bisa dikatakan sudah menjadi saudara dalam situasi tertentu. Tanpa burung maka petani akan melupakan kreatifitasnya dan lupa bahwa ada cara bijak terhadap alam beserta isinya. Burung tidak serta merta dibunuh , bisa jadi jika dibunuh maka burung pun bisa punah. Cara bijak inilah yang selayaknya dipertahankan untuk menjaga ekosistem alam. Siklus rantai makanan harus terjaga agar nantinya tidak merugikan manusia. Alam dan segala isinya diciptakan demi manusia, namun manusia terkadang lupa bahwa alam ini begitu memberikan manfaat. Kotoran burung dan menjadi pupuk serta penyebar benih biji – bijian tertentu yang nantinya tumbuh tanaman baru di lain tempat. Dengan demikian meski terkadang burung terlihat sebagai hama, namun di sisi lain burungpun memiliki peranan penting dalam menjaga ekosistem alam ini.

Demikian juga dengan petani, tanpa petani burung pun tak akan merasakan nikmanya bulir padi. Begitu juga dengan manusia, jika tak ada petani maka nasi pun tidak akan tersedian. Petani bekerja sesuai kondisi alam, ada kalanya alam bersahabat ada kalanya pula alam tidak bersahabat. Jika dilihat dari sudut pandang untung rugi, maka petani akan banyak ruginya. Mereka harus bekerja keras mulai dari menebar benih sampai panen. Acap kali panen mereka gagal karena faktor cuaca ataupun serangan hama, namun mereka telah kebal bahwa itulah resiko yang harus mereka hadapi. Petani tidak mengkalkulasikan berapa keuntungan mereka secara detail, yang terpenting mereka mampu panen dengan baik. Apalagi petani tradisional yang ada di desa – desa, menikmati hidup secara sederhana dan tak pernah berfikir muluk – muluk. Petani dan burung adalah potret harmonisasi alam.

Post a Comment

 
Top