0
Cerpen Kehidupan : Bangku Kosong Kisah Para Pejuang Yang Terlupakan

Sebuah bangku kosong dibiarkan teronggok di pojok kanan belakang ruang kelas itu. Tampak bangku itu terlihat rapuh dan doyong karena kaki – kakinya tak kuat lagi. Sementara dipapan kayunya telihat jelas banyak tulisan hasil kejailan mereka yang menempati bangku itu. Yuli i love you, Angga dan Rani, Korak grup, 1997 dan seambrek tulisan masih jelas terlihat. Meski berbalut noda – noda kotor dan beberapa lubang dibagiannya tulisan itu mengisyaratkan bahwa bangku itu telah ada sejak lama. Setidaknya sejak tahun 1997 seperti apa yang tertulis itu.



Bangku itupun  dipakai untuk meletakkan peralatan kebersihan seperti sapu lidi, sapu ijuk, pengki dan beberapa peralatan lain. Sepertinya bangku itu memang sudah tidak layak pakai lagi. Dikolongnya terlihat beberapa buah bola plastik milik siswa yang menghuni kelas itu. Terlihat pula rumah laba – laba di sudut siku – siku bagian belakang kaki bangku itu. Bangku itu sama sekali tak bergerak, pastinya karena dia adalah benda mati.

Seakan bangku itu tidak dihargai sama sekali. Dibiarkan begitu saja seolah tiada jasa dan dianggap sampah. Bangku memanglah benda mati yang tak bisa protes, ditempatkan dimana saja diaa pun mau. Ditelantarkan seperti apapun dia mau, bahkan dibakar sekalipun dia akan menyala hingga sampai mematangkan sesuatu. Dia pun akan tetap bermanfaat meski dibuang ke tempat sampah, rayap – rayap akan berebut memakannya.

Wahai kau bangku kosong  nan doyong di pojok kelas, sebenarnya kau begitu berjasa. Banyak anak manusia yang kau hantarkan menjadi  Sarjana. Banyak pula anak manusia yang kau hantarkan lulus sekolah lalu mendapatkan jabatan tinggi.  Kau tak pernah meminta balasan apapun, tak pernah pula minta diberi tanda jasa.  Kau begitu loyal menghantarkan anak manusia.
Wahai kau bangku kosong nan doyong di pojok kelas , maafkan kami. Kami lupa dan bahkan melupakanmu. Sering kali kami mencideraimu, meski kau benda mati tak sepantasnya kau diperlakukan tak layak.

Wahai kau bangku kosong nan doyong di pojok kelas. Darimu kami bisa belajar, darimu kami menjadi pintar dan darimu pula kami meniti jalan kesuksesan. Kau tunjukkan kami  tentang arti kesabaran dan keiklasan. Meski nantinya tak dianggap lagi, tetap tenang dan tanpa mengeluh itulah makna darimu. Kamipun merasakan arti sebuah kebanggaan darimu. Bangga karena telah mampu menghantarkan anak orang menuju sukses.

Bangku kosong dari cerita diatas terjadi pula pada kehidupan manusia. Banyak orang – orang yang dulunya berjasa dan bahkan sangat berjasa dilupakan begitu saja. Tidak hanya itu, bahkan kehidupannya sering kali tidak layak. Coba kita tengok saja para pejuang di jaman penjajahan dahulu. Sampai saat ini masih banyak yang hidup di sekitar kita. Para pejuang itu hanya bisa berceita kepada anak cucunya tentang masa – masa perang saat itu. Ketidaan bukti otentik sebagai data untuk menjamin kebenaran cerita para pejuang tersebut seakan menjadi racun baginya untuk setidaknya mendapat perlakuan yang layak dari negeri ini. Pada saat itu memang dokumentasi menjadi barang yang sangat mahal sehingga tidak ada bukti foto, data tertulis ataupun vidio liputan.

Bisa saja kita memakai bukti dari luka mereka. Jika pun itu digunakan tentunya harus diruntut dari kebenaran ceritanya mengapa dan bagaimana hingga sampai mendapatkan luka seperti itu.  Bahkan beberapa diantara pejuang itu, memiliki cacat tubuh misalnya jarinya diamputasi karena kena ledakan dan sebagainya.
Para pejuang yang terlupakan hanya bisa mensyukuri nikmat Tuhan bahwa hingga sampai saat ini mereka masih hidup dan bisa melihat anak cucunya sukses. Bukan hanya anak cucunya saja yang menikmati hasil jerih perjuangan namun para orang – orang di negeri ini dan bahkan duduk sebagai pejabat negara dengan penghasilan yang begitu besar nemikmati hasil perjuangan para pejuang yang terlupakan itu.

Pertanyaan saya, apakah tidak ada cara untuk membuktikan para pejuang jaman dahulu yang kini masih hidup lalu diberikan penghidupan yang layak dan diberi tanda jasa ?

Post a Comment

 
Top