0
Di siang yang panas dalam suasana yang panas juga para tentara pejuang serta  penduduk desa berkumpul untuk  melepas dahaga dengan minum kopi serta teh yang disediakan oleh para perempuan – perempuan desa. Suguhan singkong rebus menambah suasana menjadi akrab dan saling bersenda gurau. Para tentara pejuang berembuk untuk mengatur strategi dalam mengalahkan musuh. Dipandu oleh Pak dirjo sebagai pimpinan, mereka berembuk  dengan sungguh – sungguh.


“ jadi nanti kita jebak mereka untuk masuk kedalam kampung lalu kita serbu “ ucap Pak Dirjo yang kemudian disetujui oleh seluruh anggotanya.

Pada akhirnya pertempuran kembali terjadi. Satu persatu musuh bergururan. Pun begitu tentara pejuang pun juga ada yang gugur. Selang beberapa jam, pertempuran itu berakhir dan menyisakan mayat – mayat yang bergelimpangan. Satu persatu mayat itu pun diangkat dan diperlakukan dengan baik.

Satu yang membuat Pak Dirjo kebingunngan, yaitu salah satu mayat musuh yang tanpa luka sama sekali. Pak dirjo sangat bingung mengapa iya gugur tanpa ada luka. Lalu, seluruh anggotanya di kumpulkan dan ditanyai tentang kejadian yang mereka alami saat perang tadi. Pak Dirjo pun menceritakan kebingungannya tentang mayat yang tanpa luka tadi.
Hingga terdengarlah suara Pono yang agak gagap berbicara.
“ a  a  anu, itu tadi anu “

“ anu apanya No ? jelaskan “ Pak Dirjo tampak penasaran.

“ kan tadi aku melawan dia, aku berada di dalam ruangan dan dia tadi be be berada di luar ru ruangan “ jawab Pono dengan gagapnya.

“ terus kenapa dia mati tanpa luka sama sekali “ pak Dirjo semakin penasaran.

“ kan ada jendela, la la lalu aku diam – diam pergi ke ke kejendela untuk mengagetinya “ jawab Pono

“ lalu bagaimana dia bisa mati ? “ tanya pak Dirjo lagi.

“ kan dari jen jen jendela itu aku bilang CI LUK BA eeeeee dianya ka ka kaget , terus jatungnya kambuh lalu mati “

Seluruh yang ada ditempat itu tertawa terbahak – bahak , guling – guling bahkan ada yang koprol mendengar cerita Pono.

.... Pono oh Pono loh bisa aja .....

Post a Comment

 
Top