0
Asiiiiiik sebentar lagi bakal banyak kaos gratis. Ah bakal dapat tambahan kaos lagi nih. Semoga saja kainnya bagus dan enak dipakai. Lawong kelihatannya mereka yang bertarung itu banyak uang. Paling tidak bukan kaos " saringan tahu " yang biasa kudapat dari membeli semen saat disuruh juraganku.

2018 seperti diketahui merupakan tahun politik. Bakalan ramai pembicaraan terkait pilkada. Obrolan warung kopi tentunya akan berkutat di masalah pilkada. Tentang siapa dia, apa visi misinya ah pokoknya serba kalimat tanya deh. Lebih - lebih jika yang ngobrol adalah orang sepertiku tentunya akan ada pertanyaan apakah mereka berani kasih amplop ? , dikasih nominal berapa per individu jika memilih dia?.

Dengan adanya Pilkbada, sebagian masyarakat memang menunggu - nunggu akan datangnya hari pembagian. Iya itu tadi bagi - bagi kaos dan amplop. Bahkan saking serunya ada istilah "serangan fajar". Wuih mirip zaman penjajahan, cuma bedanya tidak ada suara senapan.

Kaos memang sengaja dibagikan. Salah satu tujuannya adalah sebagai iklan berjalan. Ketika kaos bergambar calon Bupati/Walikota/Gubernur beserta pasangannya dipakai seseorang, mau tidak mau orang yang melihat sedikit banyak membaca atau memandang kaos tersebut. Tentunya kaos bergambar tersebut juga ditulisi visi misi ataupun kalimat - kalimat rayuan. Dengan foto pasangan calon yang tampak ganteng, gagah dan cantik maka sedikit banyak akan mempengaruhi orang yang melihat dan membacanya.

Fenomena kaos gratis ini kini menjadi sebuah tradisi wajib bagi para calon. Selain baleho dan banner yang ada di sudut - sudut jalan. Paling tidak dengan adanya kaos gratis tersebut masyarakat yang jarang beli kaos dapat terbantu. Kaos itu dapat mereka pakai bertahun - tahun bahkan orang yang ada di gambar kaos itu telah tidak lagi menjabat.

Entah berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk pengadaan kaos - kaos tersebut. Pastinya perjuangan menjadi seorang pemimpin memang memerlukan banyak biaya dan resiko. Salah satu resiko yang paling sering muncul adalah ketidak rukunan antar para pendukung pasangan calon. Lalu mengapa mereka sangat senang menjadi  pemimpin jika resikonya harus mempertaruhkan masyarakat yang akhirnya tidak rukun ? Semoga saja para calon pemimpin yang nantinya menjadi pemimpin bisa benar - benar tulus mengabdi sehingga masyarakat rukun.

Post a Comment

 
Top