0
Banyak hal yang dapat kita kulik tentang Pilkada di tahun 2018. Mulai dari biografi masing - masing calon, visi misi hingga partai pengusungnya. Sangat seru persaingan di tahun 2018, sebab ada kaitannya dengan Pilpres 2019. 


Seluruh pasangan calon berlomba menyampaikan visi misi mereka sebaik - baiknya. Mereka tau masyarakat sekarang adalah masyarakat yang cerdas, berbeda dengan sepuluh tahun lalu.
Ada yang menarik dan sulit dijelaskan dengan logika bahwa sebagian besar  masyarakat negeri ini masih sangat mempercayai mitos. Dalam Pilkada ini pun tak lepas dengan adanya mitos.
Apalagi di tanah Jawa, masyarakatnya begitu kental dengan mitos dan itu masih dipercaya kuat sampai sekarang.
Ada satu mitos yang berlaku utamanya di masyarakat Jawa Timur terkait Pilkada ini. Jika dijelaskan mitosnya seperti ini :
" jika ada calon Kepala Daerah yang dahulunya adalah Wakil Kepala Daerah maka akan sulit menang "
Lebih gamblang nya seperti ini.
" jika A dulu  wakil bupati lalu si A tersebut mencalonkan diri menjadi bupati maka akan sulit menang "

Baca Juga :

Apakah ada kebenarannya mitos ini ? bisa ditelusuri dari riwayat Kepala Daerah yang menjabat di daerah tesebut dari tahun ke tahun.
Inilah uniknya tanah Jawa, sangat lekat dengan mitos dan kepercayaan - kepercayaan yang sulit dijelaskan dengan logika. Meski begitu, keberadaan mitos - mitos tersebut mampu membuat masyarakat Jawa berlaku bijaksana dan menghargai nilai - nilai luhur yang telah ditanamkan oleh nenek moyangnya.

Terlepas dengan keberadaan mitos tentang pilkada ini, jika ingin menang tentunya harus berjuang. Menyampaikan apa yang menjadi prioritas utama jika ia menang melalui visi misinya. Serta meyakinkan masyarakat tentang mengapa harus memilih dia. Adalah hal mutlak yang harus dilakukan oleh setiap calon.

Masyarakat tidak mau lagi adanya janji - janji manis yang ujung - ujungnya menjadi janji palsu. Masyarakat menginginkan kerja nyata, bukti nyata jika nantinya mereka terpilih. Masyarakat negeri ini adalah masyarakat yang heterogen, jadi harus bisa mengayomi agar selalu berdampingan dalam kerukunan.

Meraih hati setiap masyarakat menjadi kunci untuk memenangkan pertarungan. Bukan lagi masalah siapa yang bagi - bagi sembako ataupun bagi - bagi angpao.
Sebagai akhir dari tulisan saya ini, mari kita sukseskan Pilkada 2018. Tetap selalu berdampingan dan hidup rukun meski berbeda pilihan.  

Terkait pembuktian mitos tersebut, kita tunggu saja hingga nanti ketika telah mencapai penetapan pemenang Pilkada. Benar tidaknya itu hanya mitos, tidak perlu didebatkan sebab itu adalah bagian dari ragam keunikan masyarakat Indonesia.

Post a Comment

 
Top