0
Pasar Online atau lebih tren disebut online shop kini menjadi populer di Indonesia. Tinggal buka Hand phone ataupun lewat laptop lalu menuju alamat blog/web tertentu yang berjualan online maka dengan mudah kita bisa bertransaksi. Tidak perlu bersusah payah menyewa jasa ojek, becak ataupun angkot barang yang kita pesan dapat dengan mudah sampai kerumah. Kita masih bisa bersantai tiduran dikasur atau sedang santai dipantai ditemani para gadis pantai memakai bikini yang aduhai, sambil melihat toko – toko online untuk mencari barang yang kita inginkan. Berbagai jenis barang tersedia dan dengan mudah kita dapat memilih. Dengan cara melihat gambar lalu menanyakan kepada si penjual, tinggal kecocokan kita dan jika sudah cocok kita dapat membeli barang tersebut. Uang hanya tinggal transfer melalui bank yang telah ditentukan dan barangpun dikirim.

Pasar online memerlukan kecermatan dan ketelitian kita. Banyak para penjual online yang tipu - tipu. Kebanyakan barang tidak sesuai dengan apa yang tertera pada gambar. Ini dikarenakan gambar yang ditampilkan telah dimodifikasi atau diedit sedemikian rupa. Maka sebagai pembeli kita harus cermat. Kita harus detail menanyakan barang tersebut supaya kita tau bagaimana kondisi barang tersebut.

Pasar online sedikit banyak mengubah gaya interaksi sosial manusia. Jika kita pergi ke pasar tradisional maka kita akan bertemu langsung dengan penjual dan dapat memilih langsung barang yang akan kita beli. Interaksi pun terjadi saat kita menawar harga barang tersebut. Dengan sedikit bergaya kita tidak punya uang atau dengan uang pas – pasan dan dengan nada yang memelas maka penawaran harga barang semakin menarik. Disini terjadi drama meski tidak disadari oleh penjual atau pembeli. Apalagi jika penawaran itu berjalan alot, maka intrik drama tersebut akan semakin membuat siapa saja yang melihat dan mendengar tersenyum sendiri. Demi uang 100 rupiah saja, penjual dan pembeli akan lama beradu argumentasi. Kegigihan mempertahankan harga dan kekuatan menawar secara tidak langsung menumbuhkan idealisme dalam diri orang yang berinteraksi tersebut.

Berbeda sekali dengan pasar online. Disini tidak terjadi interaksi secara langsung. Pembeli pun jarang mengetahui wajah dari penjualnya. Tidak ada proses penawaran dan cenderung harga berapapun akan dibeli. Pasar online sedikit banyak membuat orang sok punya uang atau berlagak kaya. Tidak lagi memperhitungkan uang 100 rupiah untuk diperdebatkan dalam penawaran. Jika sudah cocok harga berapapun akan dibayar. Proses yang cenderung singkat dan tidak ada adu argumen ketika menawar barang menjadikan interaksi sosial kian memudar.

Masih hangat diberitakan tentang pembunuhan yang terkait dengan jual beli online. Berita tersebut berasal dari salah satu kota di Jawa Timur. Tersangkanya pun masih sangat muda. Menurut informasinya, pembunuhan tersebut berlatar belakang karena belum dibayarnya pembelian barang. Pembunuhan tersebut melibatkan dua orang perempuan. Satu sebagai penjual dan satu sebagai pembeli. Kabar yang beredar si pembeli membeli barang seharga satu juta dan belum dibayar akhirnya ditagih oleh penjual. Maka merekapun terlibat percekcokan hingga pada akhirnya terjadi pembunuhan.

Miris sekali kejadian ini dan seakan nyawa tak ada nilainya. Menelisik dari kejadian tersebut yang perlu kita tekankan yaitu tidak adanya belas kasihan. Memang uang satu juta bagi yang tidak mampu sangatlah banyak, akan tetapi apakah nyawa hanya seharga itu ?. Belas kasihan yang seharusnya ada dalam diri seseorang berganti amarah dan lupa segalanya. Ini terjadi karena kurangnya interaksi sosial. Jauh berbeda dengan pasar tradisional yang masih menggunakan rasa belas kasihan dan hati nurani.

Pasar online memang mempermudahkan kita. Akan tetapi dengan itu semua kita harus cermat dan teliti serta mengedepankan nilai – nilai sosial dalam bertransaksi.

Post a Comment

 
Top