0
( catatan sewaktu bengong )

Luar biasa penghargaan yang diberikan kepada peraih  medali emas asian games 2018. Mereka diberikan uang tunai 1,5 milyar plus di jadikan PNS. Ya karena mereka telah berprestasi dan berjasa pada negara. Hemmm sungguh ketiban rejeki nomplok dan bisa kaya mendadak atau bisa dibilang kini mereka menjadi miliader.

Aku ikut bebangga kepada mereka, tetapi aku mengajak para pemangku kebijakan di negeri ini untuk sedikit menengok yang ada disana. Iya mereka yang ada di pelosok - pelosok desa, yang mengabdi pada sekolah - sekolah. Lihat saja, mereka harus berjibaku setiap hari untuk mencerdaskan anak bangsa dengan upah yang hanya cukup untuk membeli sabun, shampo dan odol. Belum lagi mereka harus bersusah payah melalui jalanan yang berlubang serta menembus dinginnya kabut di pagi hari. Kadang kala mereka lupa sarapan dan perut mereka sering kali mereka tipu dengan air putih yang sengaja dibawa dari rumah.

Tidak hanya setahun dua tahun mengabdi. Banyak yang telah belasan tahun mengabdi dan usianya tak lagi muda. Presiden pun telah berganti, tetapi nasib mereka seperti tak berputar.
Lalu prestasi itu seperti apa? apakah yang mendapatkan medali emas ? apakah pengabdian mereka mencerdaskan anak bangsa bukan sebuah prestasi.
Jika penilaiannya dari membanggakan bangsanya, apakah mereka tidak membanggakan? buktinya murid yang mereka didik dahulu sekarang ada yang jadi polisi, tentara, dokter dan bahkan ada yang meraih medali emas itu.

Ada sedikit cerita dari seorang guru honerer yang telah mengabdi selama belasan tahun. Sebut saja namanya ibu " W ". Setiap hari ia diantar suaminya untuk pergi ke sekolah tempat ia mengabdi. Jaraknya tidak hanya satu atau dua kilometer, namun puluhan kilometer ditambah jalanan yang belum beraspal dan naik turun bukit. Kadang ia harus mencari tumpangan mana kala suaminya tidak bisa mengantarnya.



Ibu ini sangat bersemangat meski upah yang ia terima hanya sebesar Rp. 300.000 . Tak sebanding dengan jarak dan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli bensin motor suaminya saat menghantarkannya.
Ibu ini memiliki motivasi yang tinggi dalam mengabdi. Sempat aku bertanya kepada beliau " bu kenapa tidak pilih cari pekerjaan lain yang bayarannya gede ? " . Tanpa disangka jawaban ibu W itu seperti ini. " menurut agamaku, ada tiga  perkara yang kita bawa saat kita mati nanti salah satunya ilmu yang bermanfaat, aku hanya ingin memberikan ilmu yang manfaat pada murid - muridku ". Mendengar jawaban ibu W itu aku sempat terdiam dan rasanya tubuhku gemetaran. Belum sempat aku berdiri ibu W ini bertanya kepadaku " kalau kamu boleh pilih, pilih mana antara sengsara dirimu sendiri atau sengsara anakmu nanti ? " saat aku mau menjawab ibu W ini rupanya telah jauh dari tempatku duduk dan menyisakan kekagumanku padanya.

Ibu W ini benar - benar tanpa mengeluh, ia tulus mengabdi. Ia tau bahwa Tuhan Maha Bijaksana dan Tuhan  maha tau tempat terbaik untuk meletakkan balasan bagi ibu W itu. Ibu W  mencari ridho Tuhan bukan sekedar bayaran yang gede, karena baginya uang bisa saja membuatnya lupa diri lalu melupakan Tuhan. Sungguh pelajaran yang hebat dari seorang ibu W.



Post a Comment

 
Top