0
Akhir - akhir ini kehebohan terjadi dengan viralnya kata sontoloyo, tampang Boyolali dan genderuwo. Ketiganya menjadi viral karena di ucapkan oleh orang yang sangat populer di negeri ini. Betapa tidak, kedua orang tersebut merupakan tokoh bangsa yang saat ini mencalonkan diri menjadi presiden. Kevirallan tersebut tak lepas dari berita di media hingga menjadi konsumsi publik.

Kita tau sendiri bahwa tahun ini adalah tahun politik, tentunya setiap perkataan dan perbuatan dari tokoh yang berpengaruh selalu dikaitkan dengan politik. Apalagi kita sadari atau tidak saat ini ada dua kubu besar. Ada kubu cebong dan ada kubu kampret. Istilah ini muncul dari cara kritik masing - masing kubu. Pihak A mengkritik pihak B dengan istilah cebong dan pihak B mengkritik pihak A dengan istilah kampret. Maka populerlah binatang itu hingga yang tadinya tidak tau cebong dan kampret akhirnya penasaran dan menjadi tau. Cebong sendiri adalah sebutan untuk berudu atau anak katak sedangkan kampret adalah sebutan untuk salah satu jenis kelelawar yang biasanya tidur menggantung.

Bagi kedua kubu itu, istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan pola pikir dari orang - orang yang ada di kubu - kubu tersebut. Kalau kita mau mencermati pada perang media sosial dari kedua kubu tersebut, maka akan terlihat cara mereka berargumen. Kalau aku sih lebih menganggap mereka itu kaum lawak. Lawong apa saja bisa menjadi perdebatan dan adu argumen yang tak berujung. Dengan menganggap hal itu adalah kelucuan, maka kita tentunya tidak akan tergiring untuk masuk ke dalam salah satu kubu tersebut. Memang terkadang kalau kita rasakan perdebatan antara cebong dan kampret membuat panas telinga, tetapi kita disini harus sadar bahwa kita ini siapa dan untuk apa.

Kembali lagi ke sontoloyo, tampang Boyolali dan genderuwo. Andai saja yang mengucapkan kata tersebut adalah orang biasa pastinya kata tersebut tidak akan viral. Kata - kata tersebut sudah melekat pada masyarakat Indonesia  lebih sebagai kata guyunan.

Coba saja kita pergi ke warung kopi tentunya kata - kata umpatan banyak terjadi dan lebih sadis dari kata - kata tersebut. Masalahnya disini adalah tujuan dari kata tersebut diucapkan. Harusnya semua itu kita anggap sebagai kata guyunan agar tidak terjebak dalam emosi diri. Kalau semua kita libatkan ke dalam emosi, lalu bagaimana nantinya dengan negeri ini. Jangan sampai kita dipecah belah oleh bangsa lain yang ingin memiliki negeri ini. Kita sebagai generasi bangsa harus cerdas dalam berfikir. Utamakan persatuan bangsa agar negeri ini menjadi negeri yang dapat di teladani. #salam nawacerita
Next
This is the most recent post.
Previous
Older Post

Post a Comment

 
Top